Strategi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Strategi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Strategi Pembelajaran - Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus memiliki strategi dan metode dalam pembelajarannya. Seorang guru harus memiliki keterampilan dasar agar mampu menjalankan pembelajaran secara optimal.

Berkaitan dengan strategi pembelajaran, ada banyak sekali strategi yang bisa dipakai oleh seorang guru, salah satunya ialah pembelajaran kooperatif.

Untuk kamu yang menempuh program studi keguruan, maka kamu harus tahu pembelajaran kooperatif ini secara teori sebagai dasar dalam penerapannya.

Sebab, pembelajaran kooperatif ini adalah strategi yang sering sekali dipakai oleh guru di jenjang mana pun. Lalu, apa strategi pembelajaran kooperatif itu? Yuk, simak pembahasan lengkapnya.


Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Menurut Johnson & Johnson (1993), ada 5 unsur pokok dalam struktur tersebut, yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa diarahkan untuk bisa juga bekerja, mengembangkan diri, dan bertanggung jawab secara individu.

Strategi pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang di dalamya mengkondisikan para siswa untuk bekerja bersama-sama di dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar, (Ibrahim, 2000:2).

Kagan (1992) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi intruksional yang melibatkan interaksi siswa secara kooperatif dalam mempelajari suatu topik sebagai bagian internal dari proses belajar.

Jacob (1999) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu metode intruksional dimana siswa dalam kelompok kecil bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas akademik.

Pembelajaran kooperatif dikenal sebagai pembelajaran secara berkelompok. Posamentier (1999:12) secara sederhana menyebutkan belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas.

Dalam strategi pembelajaran kooperatif, guru bukanlah satu-satunya narasumber dalam kegiatan pembelajaran, tetapi berperan sebagai mediator, stabilisator, dan manajer pembelajaran. Melalui strategi pembelajaran kooperatif, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa lainnya (tutor sebaya).

Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, meliputi: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok (Lie, 2003:30).

Menurut Stahl (1994), ciri-ciri strategi pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Belajar bersama dengan teman.
  2. Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman.
  3. Saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok.
  4. Belajar dari teman sendiri dalam kelompok.
  5. Belajar dalam kelompok kecil.
  6. Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat.
  7. Keputusan tergantung pada siswa sendiri.
  8. Siswa aktif.

Sedangkan menurut Johnson & Johnson (1984) dan Hilke mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Terdapat saling ketergantungan yang positif di antar anggota kelompok.
  2. Dapat dipertanggungjawabkan secara individu.
  3. Heterogen.
  4. Berbagi kepemimpinan.
  5. Berbagi tanggung jawab.
  6. Menekankan pada tugas dan kebersamaan.
  7. Membentuk keterampilan sosial.
  8. Peran guru/dosen mengamati proses belajar siswa.
  9. Efektifitas belajar tergantung pada kelompok.

Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Strategi pembelajaran kooperatif terdiri dari tiga prinsip yang menjadi pendekatan agar diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, yaitu pendektan aktif, humanistik, dan kooperatif.

1. Belajar Aktif

Belajar aktif ditunjukkan dengan adanya keterlibatan intelektula dan emosional yang tinggi dalam proses belajar, tidak sekedar aktifitas fisik semata. Siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat dan idenya, melakukan eksplorasi terhadap materi yang sedang dipelajari serta menafsirkan hasilnya secara bersama-sama di dalam kelompok.

2. Pendekatan Humanistik

Pendekatan humanistik adalah salah satu pendekatan dalam belajar yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut.

Pendekatan humanistik dalam strategi pembelajaran kooperatif dapat mendorong siswa untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui interaksi, komunikasi, dan kerja sama dalam kelompok.

3. Pendekatan Kooperatif

Pendekatan kooperatif mendorong dan memberi kesempatan kepada siswa untuk terampil berkomunikasi. Dalam pendekatan ini, siswa didorong untuk mampu menyatakan pendapat atau idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain, dan menanggapi dengan tepat, meminta feedback serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan baik.

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif

Dalam setiap strategi pembelajaran, tidak ada satu pun strategi yang sempurna. Setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Demikian halnya dengan strategi pembelajaran kooperatif yang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

A. Kelebihan Strategi Pembelajaran Kooperatif

Siswa berkelompok sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

  1. Optimalisasi partisipasi siswa.
  2. Adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan (sesama siswa) dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
  3. Adakalanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
  4. Meningkatkan penerimaan.
  5. Motivasi intrinsik makin besar.
  6. Meingkatkan hubungan positif.
  7. Percaya diri yang tinggi
  8. Perilaku dalam tugas lebih
  9. Sikap yang baik terhadap guru dan sekolah.
  10. Siswa bertanggung jawab dengan belajarnya.
  11. Siswa mengartikan “apa yang guru bicarakan” kepada “apa yang dikatakan siswa” untuk peer mereka.
  12. Siswa meningkat dalam “kolaborasi kognitif”. Mereka mengorganisasi pikirannya untuk dijelaskan ide pada teman-teman sekelas mereka.

B. Kekurangan Strategi Pembelajaran Kooperatif

  1. Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lainnya.
  2. Dapat terjadi siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai.
  3. Pengelompokan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif di Kelas

Pembelajaran kooperatif bentuknya bermacam-macam, dibawah ini sedikit contoh penerapan pembelajaran kooperatif di kelas.

1. Mencari Pasangan

Teknik belajar mencari pasangan (make a match) dikembangkan oleh Lorna Curran (1994).

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menerapkan strategi pembelajaran kooperatif adalah:

  • Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian).
  • Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
  • Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
  • Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Misalnya, pemegang kartu 3 + 9 akan membentuk kelompok dengan pemegang kartu 3 x 4 dan 6 x 2.

2. Bertukar Pasangan

Teknik belajar ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain.

Langkah-langkah yang dapat diterapkan pada jenis ini adalah sebagai berikut:

  • Setiap siswa mendapatkan satu pasangan guru bisa menunjukkan pasangannya atau siswa melakukan prosedur teknik Mencari Pasangan seperti yang dijelaskan di depan).
  • Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
  • Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain 
  • Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing pasangan yang baru ini kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
  • Temuan baru didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

3. Berpikir-Berpasangan-Berempat

Teknik belajar ini dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajara kooperatif.

Langkah-langkah kegiatan dapat dilakukan dengan cara:

  • Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
  • Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
  • Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
  • Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

4. Berkirim Salam dan Soal

Teknik belajar ini memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Siswa membuat pertanyaan sendiri sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar menjawab peranyaan temannya.

Langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

  • Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok.
  • Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya
  • Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
  • Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.

5. Kepala Bernomor

Teknik belajar mengajar kepala bernomor (Numbered Heads) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

Langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

  • Siswa dibagi kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  • Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya. Misalnya, siswa nomor bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompok
  • Jika diperlukan (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru juga bisa mengadakan kerja sama antar kelompok. Siswa bisa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. 
  • Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.

6. Dua Tinggal Dua Tamu

Dua tinggal dua tamu (Two Stay Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) dan bisa digunakan bersama dengan Teknik Kepala Bernomor. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

  • Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain
  • Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
  • Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
  • Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. 

7. Keliling Kelompok

Teknik belajar mengajar keliling kelompok bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Dalam kegiatan keliling kelompok, masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.

Langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

  • Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
  • Siswa berikutnya ikut memberikan kontribusinya
  • Demikian seterusnya. Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran jarum-jam atau dari kiri ke kanan.

Kesimpulan

Strategi Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi yang paling sering digunakan, terutama di jenjang pendidikan SMA dan Universitas. Sederhananya, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dan berdiskusi antar anggota kelompok tersebut.

Itulah penjelasan tentang strategi pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Semoga bermanfaat.

Referensi:
Mu'awanah. (2011).  Strategi Pembelajaran: Pedoman Untuk Guru dan Calon Guru. Kediri: STAIN KEDIRI PRESS.

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Unknown
    Unknown 5 Desember 2021 22.00

    Terima kasih kak, sangat bermanfaat.

Add Comment
comment url