Manajemen Hubungan Masyarakat

Manajemen Humas

Pendidikan merupakan suatu keperluan bagi seluruh masyarakat. Maka dari itu, pendidikan dan masyarakat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling terintegrasi.

Dalam sebuah pendidikan, terdapat manajemen hubungan masyarakat (humas). Manajemen humas ini memegang peranan yang sangat penting dalam sebuah pendidikan karena keduanya saling terintegrasi.

Menurut Anggoro (2011), humas dalam pendidikan adalah rangkaian pengelolaan yang berkaitan dengan kegiatan bubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat (orang tua murid) yang dimaksudkan untuk menunjang proses belajar mengajar di lembaga pendidikan bersangkutan.

Setelah mengetahui betapa pentingnya manajemen hubungan masyarakat dalam sebuah pendidikan, lalu muncul pertanyaan, apa pengertian manajemen humas? Bagaimanakah hubungan sekolah dan masyarakat? Bagaimana komunikasi antara sekolah dan masyarakat? Semua pertanyaan di atas akan terjawab pada artikel kali ini.

Pengertian Manajemen Hubungan Masyarakat

Manajemen hubungan masyarakat (humas) adalah proses penelitian, perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian suatu kegiatan komunikasi yang disponsori oleh organisasi.

Menurut Frank Jeffkins (Mustari, 2014:149), humas merupakan segala sesuatu yang terdiri dari semua bentuk komunikasi berencana, baik ke dalam maupun ke luar, untuk mencapai tujuan khusus, yaitu pengertian bersama.

Kemunculan manajemen humas ditandai dengan kegagalan profesi kehumasan dalam menghadapi krisis pada tahun 1906. Saat itu, terjadi pemogokan buruh industri penambangan batu bara di AS yang mengancam kelanjutan dari industri tersebut. Lalu, muncul Ivy Ledbetter (tokoh humas pertama) yang mengenalkan manajemen humas sebagai solusi dari permasalahan tersebut.

Unsur-unsur yang Diperlukan dalam Manajemen Humas

Menurut George R. Terry (Mustari, 2014:149-150), terdapat 6 unsur yang harus dipersiapkan dalam manajemen humas, yakni:
  1. Manusia baik laki-laki, maupun perempuan (men and women). Pihak yang terlibat dalam proses manajemen memainkan peranan penting terhadap keberhasilan kinerja manajemen.
  2. Alat-alat (materials), mencakup barang-barang yang harus dibeli atau dipersiapkan demi keberhasilan proses manajemen.
  3. Sarana prasarana (machines), meliputi semua yang mendukung penggunaan dari barang atau alat yang dimiliki dalam proses manajemen.
  4. Metode (methods), meliputi teknik atau cara yang digunakan dalam menjalankan proses manajemen.
  5. Dana (money), yaitu seberapa banyak anggaran yang digunakan atau dibutuhkan.
  6. Pasar (market), yakni target sasaran perusahaan dalam menjalankan proses manajemen.

Tahapan-tahapan dalam Manajemen Humas

Tahapan-tahapan dalam manajemen humas merupakan proses yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
  1. Perencanaan (planning) mencakup penerapan tujuan dan standar penentuan aturan dan prosedur, serta pembuatan rencana dan prediksi akan apa yang akan terjadi.
  2. Pengorganisasian (organizing) mencakup pengaturan anggora dan sumber daya yang dibutuhkan dan pemantauan kinerja karyawan.
  3. Pengoordinasian (coordinating) mencakup pengaturan struktur kepanitiaan, pendelegasian kerja masing-masing bagian, dan penyusunan alokasi anggaran untuk masing-masing bagian.
  4. Pengomunikasian (communicating) mencakup penyampaian rencana program kepada publik internal dan eksternal.
  5. Pelaksanaan (actuating) merupakan tindakan menjalankan program sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
  6. Pengawasan (controlling) merupakan kontrol atas jalannya pelaksanaan program.
  7. Pengevaluasian (evaluating) merupakan penilaian terhadap hasil kinerja program.
  8. Pemodifikasian (modificating) merupakan kegiatan pembaruan atau revisi program berdasarkan hasil evaluasi.
Untuk meencapai keberhasilan dalam manajemen humas diperlukan beberapa hal mendukung, seperti perencanaan yang matang, pemberian informasi secara jelas kepada publik internal dan eksternal, pelaksanaan yang terarah sesuai rencana, serta pemantauan dan pengevaluasian hasil sebagai bentuk pemberian feedback.

Sekolah dan Keluarga

Masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga, sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan satuan organisasi terkecil di masyarakat. Peran keluarga sangat penting karena membentuk kepribadian karakter, dan watak anggota keluarganya.

Keluarga merupakan pendidikan informal pertama dan yang paling utama dalam proses sosialisasi anak. Selain itu juga sekolah merupakan pendidikan formal yang memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak. Untuk itu kedua lingkungan ini, baik formal maupun informal tidak dapat berdiri sendiri dan salin terintegrasi.

A. Pengaruh Keluarga dan Sekolah terhadap Individu

Sebelum anak memasuki usia masuk sekolah, pendidikan dilakukan di lingkup keluarga terlebih dahulu. Artinya, pendidikan keluarga sangat penting untuk tumbuh kembang anak ke depannya, baik secara fisik maupun mental.

Setelah memasuki usia sekolah, seorang anak akan di didik melalui pendidikan formal, namun hal ini tidak melepaskan anak dari pendidikan informal atau keluarga. Maka, kedua pendidikan ini sangat berpengaruh terhadap anak ke depannya.

B. Hubungan Sekolah dan Keluarga

Dalam pendidikan, seorang anak tidak bisa lepas dari tiga jalur pendidikan, yaitu formal, informal, dan nonformal. Dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 10 ayat 4 dinyatakan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan.

Sekolah hanyalah membantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga sebab pendidikan pertama dan utama anak diperoleh dari keluarga. Peralihan bentuk pendidikan jalur luar sekolah ke jalur pendidikan sekolah memerlukan kerja sama antara orang tua dan sekolah (Arikunto & Yuliana, 2008).

C. Tujuan Hubungan Sekolah dan Keluarga

Leslie (Mustari, 2014:154) merumuskan tujuan organisasi perkumpulan antara guru dan orang tua murid, adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengembangkan pengertian masyarakat (orang tua murid) tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah.
  2. Untuk memperlihatkan bahwa rumah dan sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak di sekolah.
  3. Untuk memberi fasilitas pertukaran informasi antara orang tay dan guru kemudian mempunyai dampak terhadap pemecahan pendidikan anak.
  4. Perolehan opini masyarakat tentang sekolah dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orang tua dalam ranfka untuk kebutuhan murid-murid.
  5. Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak (Indra Fachrudi, 1994).

Sekolah dan Masyarakat

Sekolah adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Program sekolah hanya dapat berjalan lancar apabila mendapat dukungan dari masyarakat. Oleh karena itu, pihak sekolah harus selalu membina hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat.

A. Tugas Pokok Hubungan Sekolah dan Masyarakat dalam Pendidikan

  1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
  2. Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
  3. Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat.
  4. Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
  5. Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
  6. Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan (Suryosubroto, 2004).

B. Tujuan Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Menurut Mulyasa (2007), tujuan hubungan sekolah dan masyarakat adalah:
  1. Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik.
  2. Memperkukuh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.
  3. Menggairahkan masyarakat masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

C. Jenis-jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat

1. Hubungan Edukatif

Hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru dan di sekolah dan orang tua dalam keluarga. Hubungan ini dimaksudkan agar tidak adanya perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang mengakibatkan keretakan dalam pendirian dan sikap anak.

2. Hubungan Kultural

Usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada.

3. Hubungan Institusional

Hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya (Purwanto, 2005).

Komunikasi Sekolah dengan Masyarakat

Dalam komunikasinya, ada beberapa teknik yang bisa digunakan oleh pihak sekolah terhadap masyarakat, yakni:

A. Teknik Tertulis

Dalam teknik tertulis, terdapat beberapa cara yang bisa digunakan, yakni:
  1. Buku kecil pada awal tahun ajaran.
  2. Pamflet.
  3. Berita kegiatan murid.
  4. Catatan berita gembira.
  5. Buku kecil tentang cara membimbing anak.

B. Tenik Lisan

Dalam teknik lisan, terdapat beberapa cara yang bisa digunakan, yakni:
  1. Kunjungan rumah.
  2. Panggilan orang tau.
  3. Pertemuan (rapat).

C. Teknik Peragaan

Komunikasi yang bisa digunakan oleh pihak sekolah adalah dengan membuat pameran yang diperankan murid. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan  juga masalah yang dihadapi dalam merealisasikannya (Bafadhol, 2005).

D. Teknik Elektronik

Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik, maka dalam rangka mengakrabkan komunikasi sekolah dan masyarakat bisa dilakukan dengan pemanfaatan media elektronik.

Media yang bisa digunakan adalah telepon, televisi, radio, dan media elektronik lainnya. Hal ini bertujuan juga untuk mempromosikan pendidikan yang ada di sekolah tersebut.

Daftar Pustaka

  • Arikunto, Suharsimi dan Yuliana, Lia. (2008). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media.
  • Bafadhol, Ibrahim. (2005). Dasar-dasar Manajemen dan  Superviisi Taman Kanak-kanak. Jakarta: PT Bumi Aksara.
  • Mulyasa. (2007). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Mustari, Mohamad. (2014). Manajemen Pendidikan. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
  • Purwanto, Ngalim. (2005). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remajja Rosdakarya.
  • Suryosubroto. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Next Post Previous Post
1 Comments
  • Unknown
    Unknown 15 Desember 2021 22.51

    Materinya pas banget sama perkuliahan aku di PGSD. Terima kasih kak

Add Comment
comment url