Pemakaian Kata Dasar, Kata Turunan, Kata Ulang dan Gabungan Kata

Pemakaian Kata Dasar, Kata Turunan, Kata Ulang dan Gabungan Kata

Peneliti dan penulis harus menggunakan pemakaian kata dasar yang benar untuk menyusun karya ilmiah yang ingin dibuat, karena kalimat dan paragraf yang dirangkai oleh berbagai kata dasar itu menentukan penyampaian isi dari suatu karya ilmiah. Jika penulisan dan pemakaian kata dasarnya benar maka penyampaian isinya akan baik. 


Apa itu Kata Dasar?

Pengertian dari kata dasar adalah satuan bahasa terkecil yang mempunyai makna, namun kata dasar belum mengalami penambahan atau perubahan bentuk atau tulisan yang mengakibatkan perubahan makna.

Contoh kata dasar : percaya, tahu, kantor, pajak, penuh, tebal, tipis, buku, kerja, tempat.

Kata dasar akan berubah bentuk atau tulisan jika mengalami penambahan awalan dan akhiran. Contoh : Kantor (Tempat) – Perkantoran (Kumpulan tempat kerja)

Pemakain Kata Turunan

Kata turunan bisa disebut dengan kata berimbuhan. Imbuhan pada kata penulisannya itu dengan serangkai atau disambungkan dengan kata dasar. Fungsi dari imbuhan adalah mengubah atau menambahkan makna pada kata yang telah diberi imbuhan. Kata imbuhan dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Awalan (Prefiks)

Imbuhan awalan yang ditempatkan di awal kata, antara lain : me-, pe-, ber-, per-, ter-, se-, ke-, di-.

  • Awalan Me- dan Pe-

a) Awalan me- dan pe- bisa berubah bentuk menjadi men- dan pen- ketika bertemu dengan kata dasar yang huruf awalnya : t dan d.

Contoh :

Kata dasar

Men-

Pen-

Tarik

Menarik

Penarik

Tukar

Menukar

Penukar

Duga

Menduga

Penduga

Dapat

Mendapat

Pendapat

b) Awalan me- dan pe- bisa berubah bentuk menjadi mem- dan pem- ketika bertemu dengan kata dasar yang huruf awalnya : p, b, f.

Contoh :

Kata dasar

Mem-

Pem-

Paksa

Memaksa

Pemaksa

Periksa

Memperiksa

Pemeriksa

Buru

Memburu

Pemburu

Buat

Membuat

Pembuat

Fitnah

Memfitnah

Pemfitnah

c) Awalan me- dan pe- bisa berubah bentuk , menjadi meny- dan peny- ketika bertemu dengan kata dasar yang huruf awalnya : s, c, dan j.

Contoh :

Kata dasar

Meny-

Peny-

Sapu

Menyapu

Penyapu

Sangkal

Menyangkal

Penyamgkal

Cari

Mencari

Pencari

Cuci

Mencuci

Pencuci

Jaga

Menjaga

Penjaga

Jual

Menjual

Penjual

d) Awalan me- dan pe- bisa berubah bentuk menjadi meng- dan peng- ketika bertemu dengan kata dasar yang huruf awalnya : k, g, kh, h, dan vokal.

Contoh :

Kata dasar

Meng-

Peng-

Kacau

Mengacau

Pengacau

Ganggu

Menganggu

penganggu

Khayal

Mengkhayal

Pengkhayal

Hias

Menghias

Penghias

Angkut

Mengangkut

Pengangkut

Ikat

Mengikat

Pengikat

Ulur

Mengulur

Pengulur

Edit

Mengedit

Pengedit

Omel

Mengomel

Pengomel

Namun ada catatan jika terdapat kata dasar yang mempunyai satu suku kata, maka penambahan imbuhan meng- dan peng- berubah menjadi menge- dan penge-. Contoh :

  • Las => Mengelas dan Pengelas
  • Bor => Mengebor dan Pengebor
  • Cat => Mengecat dan Pengecat
  • Bom => Mengebom dan Pengebom

  • Awalan Ber- dan Per-

1) Awalan ber- dan per- bisa berubah bentuk menjadi be- dan pe- ketika huruf awal di kata dasarnya yaitu r dan jika suku pertama kata berakhir er. Contoh :

  • Be- = rantai -> berantai, runding -> berunding, kerja -> bekerja, serta -> beserta.
  • Pe- = riang -> periang, rendah -> perendah.

2) Awalan ber- dan per- berubah menjadi bel- dan pel- apabila ditambahkan kata dasar ajar. Contoh :

  • Bel- = ajar -> belajar
  • Pel- = ajar -> pelajar

3) Awalan ber- dan per- tetap menjadi ber- dan per- ketika huruf awal di kata dasar bukan r dan suku kata pertamanya tidak berakhiran er. Contoh :

Ø Ber- = kata -> berkata, tugas -> bertugas, main -> bermain.

Ø Per- = kaya -> perkaya, jelas -> perjelas, besar-> perbesar.

  • Awalan Imbuhan Ter-

Imbuhan ter- membentuk kata pasif, yang fungsinya sebagai membentuk kata kerja pasif. Selain itu, imbuhan ter- membuat makna kata lainnya yaitu seperti:

* Menyatakan keadaan , contohnya tertutup, terbuka, terkunci.

* Menyatakan sifat, contohnya terbaik, terhebat, tersohor.

* Menyatakan ketidaksengajaan, contohnya terambil, terbawa, tertinggal.

* Menyatakan kegiatan yang terjadi secara tiba-tiba, contohnya terlempar, tertawa, terjatuh.

  • Awalan Imbuhan Se-

Imbuhan se- membentuk kata dasar menjadi kata yang menunjukkan jumlah dan menyatakan sifat. Contohnya :

v Menunjukkan jumlah, yaitu selembar, sepotong, sebiji, sekelas, sekampung, sekota.

v Menunjukkan sifat, yaitu semerdu, sepandai, secantik, sesyahdu.

  • Awalan Imbuhan Di-

Imbuhan di- membuat kata dasar yang awalnya aktif menjedi pasif. Kebalikan dari me-. Contoh : di + peluk = dipeluk, me + peluk = memeluk.

Dipeluk artinya menerima pelukan, sedangkan memeluk artinya melakukan tindakan peluk.

  • Awalan Imbuhan Ke-

Imbuhan awalan ke- tidak mempunyai bentuk perubahan khusus. Namun, awalan ke- memiliki makna menyatakan urutan. Seperti kesatu, kedua, ketiga dan seterusnya.

2. Akhiran (Sufiks)

Imbuhan akhiran ditempatkan di akhir kata. Imbuhan yang termasuk akhiran antara lain : -kan, -i, -an.

  • Akhiran Imbuhan –kan dan –i

Biasanya memberikan makna perintah atau kata kerja pada kata dasar yang ditambahi. Contoh :

Beri -> berikan, dengar-> dengarkan, pejam -> pejamkan, harga -> hargai,

warna -> warnai, tulis -> tulisi.

  • Akhiran Imbuhan –an

Biasanya memberikan makna yang menyatakan tempat, alat dan bagian.

Contoh :

1) Menyatakan tempat : ruang -> ruangan, lapang -> lapangan, kubang -> kubangan, pangkal -> pangkalan.

2) Menyatakan alat : timbang -> timbangan, jepit -> jepitan, panggang -> panggangan.

3) Menyatakan bagian : tahun -> tahunan, minggu -> mingguan, satu -> satuan.

3. Gabungan

Imbuhan gabung ditempatkan di awal dan akhir kata. Imbuhan yang termasuk dalam gabungan terdiri dua macam yaitu imbuhan gabung simulfiks dan imbuhan gabung konfiks.

a) Imbuhan gabungan simulfiks

Simulfiks adalah dua imbuhan atau lebih yang membubuhi kata secara bertahap. Imbuhan yang termasuk simulfiks yaitu me-kan, me-i, di-kan, di-i.

Contoh :

· Me-kan : me + tanam -> menanam + kan -> menanamkan.

· Me-i : teman + i -> temani -> me + temani -> menemani.

· Di-kan : besar + kan -> besarkan -> di + besarkan -> dibesarkan.

· Di-i : panas + i -> panasi -> di + panasi -> dipanasi.

b) Imbuhan gabungan konfiks

Konfiks adalah dua imbuhan yang membubuhi suatu kata secara bersama-sama. Imbuhan yang termasuk konfiks yaitu ke-an, pe-an, per-an, ber-an, se-nya.

Contoh :

  • Ke-an : rindu -> kerinduan
  • Pe-an : harga -> pengahargaan
  • Per-an : tikai -> pertikaian
  • Ber-an : saut -> bersautan
  • Se-nya : andai -> seandainya

Pemakaian Kata Ulang

Cara penulisan kata ulang yaitu ditulis secara lengkap dengan menggunakan kata hubung (-). Kata ulang sering kita temui diberbagai buku, majalah, koran dan media baca lainnya. Contohnya : anak-anak, buku-buku, mata-mata, hati-hati, dan lain sebagainya.

Pemakain Gabungan Kata

1. Gabungan Kata majemuk

Gabugan kata majemuk adalah gabungan 2 kata dasar yang asalnya memiliki makna masing-masing, namun ketika 2 kata tersebut digabung dapat menghasilkan makna yang baru. Penulisan gabungan kata majemuk ini ditulis terpisah. Contoh :

Rumah sakit rumah yang bermakna tempat tinggal, sedangkan sakit bermakna tidak sehat, namun ketika dua kata tersebut digabung akan memiliki makna baru yaitu tempat untuk berobat, atau untuk penyembuhan penyakit.

2. Gabungan Kata Isltilah Khusus

Gabungan kata istilah khusus adalah gabungan kata yang mungkin menimbulkan kesalah artian ketika dibaca seseorang, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan bahwa dua kata tersebut berkaitan.

Contoh : Anak-istri saya di rumah, yang artinya anak saya dan istri saya di rumah.

3. Gabungan Kata Yang ditulis Serangkai

Gabungan kata yang ditulis serangkai tidak menggunakan spasi atau tanda hubung, karena gabungan kata ini sudah tegas makna artinya dan tidak ada kekeliruan makna dalam gabungan katanya.

Contoh : sukacita, saputangan, kacamata.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url