Evaluasi Pembelajaran: Pengertian, Ciri-ciri, Tujuan, Fungsi, Objek, Alat

Evaluasi Pembelajaran

Dalam dunia pendidikan, kita mengetahui bahwa dalam kurun waktu tertentu, selalu mengadakan sebuah evaluasi. Artinya dalam kurun waktu tertentu, selalu ada evaluasi pendidikan atau hasil yang telah dicapai dalam periode pendidikan tertentu, baik oleh pihak terdidik maupun pendidik.

Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk apakah materi yang disampaikan sudah tepat dan apakah tujuan yang sudah dirumuskan tercapai atau belum. Semua pertanyaan tersebut akan dijawab melalui evaluasi.

Dalam proses evaluasi pembelajaran, seorang evaluator harus memahami konsep dari evaluasi pembelajaran secara teoritis. Hal ini dimaksudkan agar seorang evaluator dapat memahami fungsi dan tujuan evaluasi tersebut. Evaluator juga harus memahami ciri-ciri evaluasi dan siapa yang menjadi objek dari evaluasi pembelajaran.

Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran pada dasarnya bukan hanya menilai hasil belajar, tetapi juga proses-proses yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam keseluruhan proses pembelajaran. Istilah tes, pengukuran (measurement), penilaian (assesment) dan evaluasi sering disalahartikan dan disalahgunakan dalam praktik evaluasi. Secara konsepsional istilah-istilah tersebut sebenarnya berbeda satu sama lain, meskipun mempunyai keterkaitan yang sangat erat.

Tes adalah pemberian suatu tugas atau rangkaian tugas dalam bentuk soal atau perintah atau suruhan lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil pelaksanaan tugas tersebut digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu terhadap peserta didik.

Pengukuran (measurement) adalah suatu proses untuk menentukan kuantitas daripada sesuatu. Sesuatu itu bisa berarti peserta didik, strategi pembelajaran, sarana prasarana sekolah dan sebagainya. Untuk melakukan pengukuran tentu dibutuhkan alat ukur. Dalam bidang pendidikan, psikologi, maupun variabel-variabel sosial lainnya, kegiatan pengukuran biasanya menggunakan tes sebagai alat ukur.

Sedangkan penilaian (assesment) adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu (Arifin, 2013:4). Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, keputusan tersebut dapat menyangkut keputusan tentang peserta didik (seperti nilai yang akan diberikan), keputusan tentang kurikulum dan program atau juga keputusan tentang kebijakan pendidikan.

Pengertian Evaluasi Pembelajaran Menurut Para Ahli

Arikunto

Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan dapat tercapai (Arikunto, 2016, hlm.3).

Arifin

Menurut Arifin (2017, hlm. 2) evaluasi adalah suatu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran.

Ralph Tyler

Tyler dalam Arikunto (2016, hlm. 3) mendefinisikan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menemukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.

Norman E. Gronlund

Menurut Gronlund (1976) dalam (Purwanto, 2013, hlm. 3) evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa.

Wringth

Wringht dkk berpendapat evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum (Wringth dkk dalam Purwanto, 2013, hlm. 3).

Rina Febriana

Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi, dalam menilai (assessment) keputusan yang dibuat untuk merancang suatu sistem pembelajaran  (Febriana, 2019, hlm. 1).

Proses Evaluasi Pembelajaran

Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat untuk proses produksi, dan calon peserta didik diumpamakan sebagai bahan mentah, maka lulusan dari sekolah itu hampir sama dengan produk hasil olahan yang sudah siap digunakan disebut juga dengan ungkapan transformasi. 

1. Input

Input adalah bahan mentah yang dimasukkan kedalam transformasi. Dalam dunia sekolah maka yang dimaksud dengan bahan mentah adalah calon peserta didik yang baru akan memasuki sekolah. Sebelum memasuki sesuatu tingkat sekolah (institusi) calon peserta didik itu dinilai dahulu kemampuannya. Dengan penelitian itu diketahui apakah kelak akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.

2. Ouput

Output adalah bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang dimaksud dalam pembicaraan ini adalah peserta didik lulusan sekolah yang bersangkutan untuk dapat menentukan apakah peserta didik berhak lulus atau tidak, perlu diadakan kegiatan penilaian.

3. Transformasi

Transformasi adalah mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam dunia sekolah, sekolah itulah yang dimaksud dengan transformasi. Sekolah itu sendiri terdiri dari beberapa mesin yang menyebabkan berhasil atau gagalnya sebagai transformasi. Bahan jadi yang diharapkan dalam hal ini peserta didik lulusan sekolah ditentukan oleh beberapa faktor sebagai akibat pekerjaannya unsur-unsur yang ada.
Unsur-unsur transformasi sekolah tersebut antara lain:
  • Guru dan personal lainya.
  • Metode mengajar dan sistem evaluasi.
  • Sarana penunjang.
  • Sistem administrasi.

4. Umpan Balik (feedback)

Umpan balik (feedback) adalah segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk memperbaiki input maupun transformasi.Lulusan yang kurang bermutu atau yang tidak siap pakai yang belum memenuhi harapan, akan menggugah semua pihak untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan penyebab kurang bermutunya lulusan.
Penyebab-penyebab tersebut antara lain: 
  • Input yang kurang baik kualitasnya. 
  • Guru dan personal yang kurang tepat (kualitas). 
  • Materi yang tidak atau kurang cocok.
  • Metode mengajar dan sistem evaluasi yang kurang memadai standarnya.
  • Kurang sarana penunjang. 
  • Sistem administrasi yang kurang tepat.
Dari itu maka jelas bahwa penilaian di sekolah meliputi banyak segi: calon peserta didik, guru, metode, lulusan dan proses pendidikan secara menyeluruh turut menentukan peranan.

Download Power Point Evaluasi Pembelajaran: 

Ciri-ciri Evaluasi Pembelajaran

Ada lima ciri evaluasi dalam pendidikan sebagaimana diungkapkan Suharsimi (2002:11), yaitu:

1. Penilaian Dilakukan Secara Tidak Langsung

Sebagai contoh mengetahui tingkat inteligen seorang anak, akan mengukur kepandaian melalui ukuran kemampuan menyelesaikan soal-soal. Dengan acuan bahwa tanda-tanda anak yang inteligen adalah anak yang mempunyai:
  • Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.
  • Kemampuan untuk menggunakan bahasa yang baik.
  • Kemampuan untuk menanggap sesuatu yang baru (cepat mengikuti pembicaraan orang lain).
  • Kemampuan untuk mengingat-ingat.
  • Kemampuan untuk memahami hubungan (termasuk menangkap kelucuan).
  • Kemampuan untuk berfantasi.

2. Penggunaan Ukuran Kuantitatif

Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu diinterpretasikan ke bentuk kualitatif. Contoh : Dari hasil pengukuran, Tika mempunyai IQ 125, sedangkan IQ Tini 105. Dengan demikian maka Tika dapat digolongkan sebagai anak yang pandai, sedangkan Tini anak yang normal.

3. Menggunakan Unit-unit untuk Satuan-satuan yang Tetap 

Hal ini dikarenakan IQ 105 termasuk anak normal.Jadi setiap satuan atau unit penilaiannya bersifat tetap.

4. Bersifat Relatif 

Artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain. Contoh: hasil ulangan yang diperoleh Mianti hari Senin adalah 80. Hasil hari Selasa 90. Tetapi hasil ulangan dari Sabtu hanya 50. Ketidak tetapan hasil penilaian ini disebabkan karena banyak faktor. Mungkin pada hari Sabtu Mianti sedang risau hatinya menghadapi malam Minggu sore harinya.

5. Sering Terjadi Kesalahan-kesalahan

Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau dari berbagai faktor yaitu:

a. Terletak Pada Alat Ukurnya

Alat yang digunakan untuk mengukur haruslah baik. Sebagai misal, kita akan mengukur panjang meja tetapi  menggunakan pita ukuran yang terbuat dari bahan elastis, dan cara mengukurnya ditarik-tarik. Tentu saja pita ukuran itu tidak dapat kita golongkan sebagai alat ukur yang baik karena gambaran tentang panjangnya meja tidak dapat diketahui dengan pasti. Tentang bagaimana syarat-syarat alat ukur yang digunakan dalam pendidikan, akan dibicarakan di bagian lain.

b. Terletak Pada Orang yang Melakukan Penilaian 

Hal ini dapat berupa:
  • Kesalahan pada waktu melakukan penilaian, Karena faktor  subyektif penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran. Tulisan jelek dan tidak jelas, mau tidak mau sering mempengaruhi subyektifitas penilai, jika pada waktu mengerjakan koreksi, penilai itu sendiri sedang risau. Itulah sebabnya pendidik harus sejauh mungkin dari hal itu.
  • Kecenderungan dari  penilai untuk memberikan nilai secara “murah” atau “mahal”. Ada guru yang memberi nilai 2 (dua) untuk peserta didik yang menjawab salah dengan alasan untuk upah menulis. Tetapi ada yang memberikan (nol) untuk jawaban yang serupa.
  • Adanya “hallo-effect”, yakni adanya kesan menilai terhadap peserta didik. Kesan-kesan itu dapat berasal dari guru yang lain maupun dariguru itu sendiri pada kesempatan memegang mata pelajaran itu.
  • Adanya pengaruh hasil yang telah diperoleh terdahulu. Seorang peserta didik pada ulangan pertama mendapat angka 10 sebanyak 12 kali. Untuk ulangan yang ketiga belas dan seterusnya, guru sudah terpengaruh ingin memberi angka lebih banyak dari sebenarnya pada waktu ulangan tersebut, ia sedang mengalami nasib sial, yakni salah mengerjakan.
  • Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka-angka hasil penilaian.

c. Terletak Pada Anak yang Dinilai

  • Siswa adalah manusia yang berperasaan dan bersuasana hati. Suasana hati seseorang akan berpengaruh terhadap hasil penilaian. Misalnya suasana hati yang kalut, sedih atau tertekan memberikan hasil kurang memuaskan. Sedang suasana hati gembira dan cerah, akan memberi hasil yang baik.
  • Keadaan fisik ketika peserta didik sedang dinilai. Kepala pusing, perut mulas dan pipi sedang bengkak karena sakit gigi, tentu saja akan mempengaruhi cara peserta didik memecahkan persoalan. Pikiran sangat sukar untuk konsentrasi.
  • Nasib peserta didik kadang-kadang mempunyai peranan terhadap hasil penilaian. Tanpa adanya sesuatu sebab fisik maupun psikis, adakalanya seperti ada “gangguan” terhadap kelancaran mengerjakan soal-soal.

d. Terletak Pada Situasi Dimana Penilaian Berlangsung

  • Suasana yang gaduh, baik di dalam maupun di luar ruangan, akan mengganggu konsentrasi peserta didik. Demikian pula tingkah laku kawan-kawannya yang sedang mengerjakan soal, apakah mereka bekerja dengan cukup serius atau tampak seperti main-main, akan mempengaruhi diri peserta didik dalam mengerjakan soal.
  • Pengawasan terhadap penilaian, tidak menjadi rahasia lagi bahwa pengawasan yang terlalu ketat tidak akan disenangi oleh peserta didik yang suka melihat ke kanan dan ke kiri. Namun adakalanya, keadaan sebaliknya, yaitu pengawasan yang longgar justru membuat kesal bagi peserta didik yang mau disiplin dan percaya diri sendiri.
Evaluasi yang dijalankan oleh seorang guru mungkin berjalan dengan baik. Tetapi mungkin hasil penilaian yang mereka lakukan itu buruk mutunya. Sehubungan dengan itu, maka untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan evaluasi yang baik perlu sebelumnya ditentukan unsur-unsur apa dalam situasi belajar yang dianggap penting. Bahkan aspek terpenting dalam segala macam belajar, ialah tujuan pelajar itu sendiri.

Objek Evaluasi Pembelajaran

Aspek-aspek yang diperlukan dalam evaluasi terhadap peserta didik meliputi:
  • Aspek-aspek tentang berpikir, termasuk didalamnya: intelegensi, ingatan, cara menginterupsi data, prinsip-prinsip pengerjaan pemikiran logis.
  • Perasaan sosial; termasuk di dalamnya: cara bergaul, cara pemecahan nilai-nilai sosial, cara menghadapi dan cara berpartisipasi dalam kenyataan sosial.
  • Keyakinan sosial dan kewarganegaraan menyangkut pandangan hidupnya terhadap masalah-masalah sosial, politik dan ekonomi.
  • Apresiasi seni dan budaya.
  • Minat, bakat dan hobi.
  • Perkembangan sosial dan personal.
Pendapat lain melihat ruang lingkup objek evaluasi itu dari segi lain, yaitu dari segi pencapaian tujuan belajar murid dari berbagai mata pelajaran di sekolah. Dari pandangan tersebut dirumuskan beberapa aspek kepribadian yang perlu diperhatikan di dalam penilaian sebagai berikut.
  • Kesehatan dan perkembangan fisik.
  • Perkembangan emosional dan sosial.
  • Tingkah laku etis, standar personal, dan nilai-nilai sosial.
  • Kemampuan atau kecakapan untuk menjalankan kepemimpinan untuk memilih pemimpin secara bijaksana untuk bekerja dalam kelompok dan masyarakat.
  • Menjadi warga negara yang berguna di rumah, sekolah dan masyarakat sekarang dan masa mendatang.
  • Perkembangan estetika, baik sebagai penikmat maupun pencipta dalam seni sastra, drama, radio dan televisi, kerajinan tangan, home decoration, dan sebagainya.
  • Kompetensi dalam komunikasi dengan orang-orang lain melalui berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis.
  • Kecakapan dalam berhitung, mengukur, menaksir, dan berpikir Kuantitatif.

Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Secara umum tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran secara luas. Sistem pembelajaran dimaksud meliputi: tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri.

Selain itu, evaluasi pembelajaran juga ditujukan untuk menilai efektivitas strategi pembelajaran, menilai dan meningkatkan efektivitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan efektivitas pembelajaran, membantu belajar peserta didik, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta didik, serta untuk menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan.

Chittenden (1994) secara simpel mengklasifikasikan tujuan penilaian (assessment purpose) adalah untuk 
  • Keeping track. 
  • Checking-up.
  • Finding-out.
  • Summing-up.
Keempat tujuan tersebut oleh Arifin (2013:15) diuraikan sebagai berikut.

1. Keeping Track 

Untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk itu, guru harus mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu melalui berbagai jenis dan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.

2. Checking-up 

Untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu melakukan penilaian untuk mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai peserta didik dan bagian mana dari materi yang belum dikuasai.

3. Finding-out 

Untuk mencari, menemukan, dan mendeteksi kekurangan kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan cepat mencari alternatif solusinya.

4. Summing-up 

Untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang berkepentingan.

Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Dengan mengetahui makna penilaian ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

1. Penilaian Berfungsi Selektif

Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap peserta didiknya. Penilaian itu sendiri mempunyai beberapa tujuan, antar lain:
  • Untuk memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu.
  • Untuk memilih peserta didik yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
  • Untuk memilih peserta didik yang seharusnya mendapat bea peserta didik.
  • Untuk memilih peserta didik yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.

2. Penilaian Berfungsi Diagnotik

Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan peserta didik. Disamping itu diketahui pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosa kepada peserta didik tentang kelebihan dan kelemahannya. Dengan mengetahui sebab-sebab kelemahan ini, maka akan lebih mudah mencari cara mengatasinya.

3. Penilaian Berfungsi Sebagai Penempatan

Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara Barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual.

Setiap peserta didik sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendidikan yang bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok.

Untuk dapat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang peserta didik harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok peserta didik yang mempunyai hasil penilaian sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

4. Penilaian Berfungsi Sebagai Pengukur Keberhasilan

Fungsi dari penilaian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: guru, metode/strategi pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, sarana dan sistem administrasi.

Selain dari itu penilaian juga berguna bagi semua pihak pemangku  kepentingan, mulai dari peserta didik, tenaga pengajar, sekolah dan juga masyarakat. Khusus bagi peserta didik, guru dan sekolah penilaian memberikan manfaat sebagai berikut.

1. Peserta Didik

Dengan diadakannya penilaian, maka peserta didik dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan guru. Hasil yang diperoleh peserta didik dari pekerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan:
  • Memuaskan: Jika peserta didik memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu. Akibatnya peserta didik akan mempunya motivasi yang cukup besar untuk belajar yang lebih giat. Namun demikian, keadaan sebaliknya dapat terjadi, yakni peserta didik merasa sudah puas dengan hasil yang diperoleh dan usahanya kurang gigih lain kali.
  • Tidak memuaskan: Jika peserta didik tidak puas dengan hasil yang diperoleh ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Maka ia lalu bekerja giat. Namun demikian, keadaan sebaliknya dapat terjadi putus asa dengan hasil kurang memuaskan yang telah diterimanya.

2. Guru

  • Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui peserta didik mana yang sudah berhak meneruskan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui peserta didik yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada peserta didik yang belum berhasil. Apa lagi jika guru tahu akan sebab-sebabnya ia akan memberikan perhatian yang lebih teliti sehingga keberhasilan selanjutnya dapat diharapkan.
  • Guru akan mengetahui apakah ‘materi’ yang diajarkan sudah tepat bagi peserta didik sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
  • Guru akan mengetahui apakan ‘metode’ yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari peserta didik memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. Apabila demikian halnya, maka guru harus mawas diri dan mencoba mencari metode lain dalam belajar.

3. Sekolah

  • Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar peserta didik-peserta didiknya, dapat pula diketahui bahwa apakan kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum. Hasil belajar merupakan cermin kualitas sesuatu sekolah.
  • Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.
  • Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun Ketahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum. Pemenuhan standar akan terlihat dari bagusnya angka-angka yang diperoleh peserta didik.

Alat Evaluasi Pembelajaran

Instrumen penilaian hasil belajar atau instrumen evaluasi merupakan alat (ukur) yang digunakan untuk mengumpulkan atau mengolah informasi mengenai pencapaian hasil belajar para peserta didik.

1. Pengertian Teknik Tes     

Secara harfiyah, kata “tes” berasal dari bahasa Perancis Kuno: testum dengan arti: “piring untuk menyisihkan logam-logam mulia” (maksudnya dengan menggunakan alat yang berupa piring itu akan dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia yang nilainya sangat tinggi). Dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes” , “ujian” atau “percobaan”.

Tes merupakan alat atau prosedur yang dipergunakan dengan bentuk tugas atau suruhan yang harus dilaksanakan dan dapat pula berupa pertanyaan-pertanyaan atau soal yang harus dijawab. Adapun pelaksanaannya, dapat dilaksanakan secara lisan maupun secara tes tulis. 

Tes adalah alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian, atau pengetahuan. Dari pengertian ini maka tes adalah:
  • Merupakan alat
  • Harus direncanakan
  • Berfungsi sebagai pengukur kemampuan, kecakapan dan pengetahuan anak.

2. Fungsi Teknik Tes

Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh teknik tes, yaitu:
  • Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
  • Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai. 

3. Penggolongan Teknik Tes

a. Menurut Sifatnya 

Menurut sifatnya, teknik tes dapat dikelompokkan menjadi:
  • Tes Verbal, yang mana tes dengan cara ini menggunakan bahasa sebagai alat untuk melakukan tes Tes verbal terdiri dari tes lisan (oral test) dan tes tulis (written test)
  • Tes Non Verbal, yaitu tes yang tidak menggunakan bahasa sebagai alat untuk melaksanakan tes, tetapi menggunakan gambar, memberikan tugas dan sebagainya, atau dengan tes ini tester menghendaki adanya respon dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku. Jadi, respon yang dikehendaki muncul yang dari tes adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.

b. Menurut Tujuannya 

Tes dapat dikelompokkan menjadi:
1) Tes Bakat (Aptitude Test) Yaitu tes yang digunakan untuk menyelidiki bakat seseorang. Tes bakat biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang bersifat potensial. 
2) Tes Intelegensi (Intellegenci Test) Yakni tes yang dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
3) Tes Prestasi Belajar (Achievement Test) Yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui prestasi seseorang murid dari mata pelajaran yang telah diberikan.

2. Pengertian Teknik Non Tes

Non tes adalah cara penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan tanpa menguji peserta didik tetapi dengan melakukan pengamatan secara sistematis. Teknik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Bentuk-bentuk teknik nontes adalah sebagai berikut.

a. Observasi (Pengamatan) 

Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai saksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya.

b. Interview (Wawancara)

Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan cara melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan18.

c. Angket (Kuesioner)

Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Prinsip Penulisan Angket:
  • Isi dan tujuan pertanyaan jelas.
  • Bahasa yang digunakan mudah dipahami.
  • Tipe dan bentuk pertanyaan (terbuka atau tertutup).
  • Pertanyaan tidak mendua.
  • Tidak menanyakan yang sudah lupa.
  • Panjang pertanyaan (max 30 pertanyaan).
  • Urutan pertanyaan (dari mudah ke sulit).

Daftar Pustaka

  • Asrul, dkk. (2014). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Ciptapustaka Media.
  • Sudijono, Anas. (2004). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • E.G. Guba, and Y.S. Lincoln. (1985). Effective Evaluation. San Francisco: Jossey-Bass Pub.
  • G. Sax. (1980). Principles of Educational and Psychological Measurement and Evaluation. Belmont California: Wads Worth Pub.Co.
  • Arikunto, Suharsimi. (2005). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Raka, T. Joni. (1984). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Surabaya: Karya Anda.
  • Willeiam, A. Mohrens, dkk. (1985) Measurement and Evaluation in Education and Psychology. New York: Rinchart and Wionston.
  • Arifin, Zainal. (2013). Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Febriana, Rina. (2019). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Next Post Previous Post
1 Comments
  • Unknown
    Unknown 15 Desember 2021 22.53

    Materinya daging banget, mudah dimengerti dan sumbernya valid. Jadi enak buat dibaca

Add Comment
comment url