Unsur-unsur Paragraf yang Harus Kamu Ketahui

Unsur-unsur Paragraf

Bahasa Indonesia - Dalam sebuah tulisan atau karangan biasanya terdapat bagian yang agak menjorok ke dalam. Bagian yang secara fisik sudah tampak dengan nyata karena adanya tanda menjorok itu disebut paragraf. Dengan kata lain, batas-batas paragraf ditandai indensi ( dimulai pada huruf ke sekian dari margin kiri).

Sebuah Paragraf memiliki unsur-unsur yang harus ada didalamnya. Unsur-unsur itulah yang membentuk sebuah paragraf, jadi apabila satu unsur saja tidak ada, maka kalimat tersebut tidak bisa disebut paragraf.

Nah, kali ini kita akan membahas unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah paragraf. Apasaja? Simak selengkapnya, yuk!


Unsur-unsur Paragraf

Sebuah paragraf memerlukan yang namanya unsur-unsur paragraf, adapun tujuannya agar paragraf yang dibuat menjadi sistematis dan juga logis atau dapat diterima oleh akal. Seperti yang dikemukakan oleh Wiyanto (2004) bahwa untuk membuat paragraf yang sistematis dan logis ada empat unsur yang mendukung, yaitu transisi, kalimat utama, kalimat penjelas, dan kalimat penegas.

Transisi

“Sebuah tulisan atau karangan tidak hanya terdiri dari satu paragraf, tetapi dari beberapa paragraf. Paragraf-paragraf itu tidak berdiri sendiri, tetapi harus berhubungan satu dengan yang lainnya,” (Wiyanto,2004:22).

Untuk menghubungkan paragraf satu dengan yang lain dibutuhkan "perekat" yang disebut transisi. Transisi digunakan untuk menghubungkan paragraf satu dengan yang lain sehingga memiliki hubungan yang logis.

Walaupun demikian, tidak semua paragraf mengandung transisi. Ada paragraf yang tidak perlu menggunakan transisi karena tanpa transisi pun hubungannya terasa logis. Transisi digunakan apabila diperlukan penulis.

Transisi tidak hanya menghubungkan antar paragraf, akan tetapi dapat digunakan juga untuk menghubungkan kalimat, antar subbab, dan antar bab.Wujud transisi ada 3 yaitu kata, kalimat, dan paragraf.

1. Transisi berupa kata (kelompok kata)

Pengelompokan berdasarkan penanda hubungannya seperti berikut ini.
  • Penanda hubungan kelanjutan: lagi pula, tambahan lagi, bahkan, kedua, ketiga, selanjutnya, akhirnya, dan terakhir.
  • Hubungan waktu: sekarang, kini, kelak, sebelum, sesudah, sementara itu, sehari kemudian, dan tahun depan.
  • Penanda klimaks: paling, se, nya, dan ter.
  • Penanda perbandingan: ibarat, sama, dan bak.
  • Penanda kontras: biarpun, walaupun, dan sebaliknya.
  • Penanda urutan jarak: di sana, di sini, di situ, sebelah, dekat, dan jauh.
  • Penanda ilustrasi: umpama, contoh, dan misalnya.
  • Penanda sebab akibat: sebab, oleh sebab itu, oleh karena dan akibatnya.
  • Penanda syarat (pengandaian): jika, kalau, jikalau, andai kata, dan seandainya.
  • Penanda kesimpulan: ringkasannya, kesimpulannya, garis besarnya, dan rangkuman.

2. Transisi berupa kalimat

Kalimat yang digunakan sebagai transisi dikenal pula dengan istilah kalimat penuntun. Kalimat penuntun mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai transisi dan sebagai pengantar topik yang akan dijelaskan.

Contoh kalimatnya:

Ringkasnya, morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kata. Yang dibicarakan dalam morfologi adalah perubahan-perubahan bentuk kata, baik dengan afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan bentuk kata membawa akibat adanya perubahan arti kata. Pembicaraan mengenai perubahan arti kata sebagai akibat perubahan bentuk kata ini juga masuk wilayah morfologi. Bahkan morfologi juga membicarakan perubahan jenis kata sebagai akibat dari perubahan bentuk kata. (Wiyanto, 2004:24).

3. Transisi berupa paragraf

Adakalanya transisi berupa paragraf pendek. Transisi ini digunakan untuk “membelokkan” pembahasan dari suatu pokok pikiran ke pokok pikiran yang lain. Namun, transisi ini agak jarang digunakan karena transisi ini biasanya menghubungkan subbab dalam suatu tulisan.

Contoh kalimatnya:

"Demikian penjelasan ringkas mengenai pentingnya pembuka pidato. Sebelum kita lanjutkan pembicaraan mengenai berbagai cara membuka pidato yang menarik, memikat, dan memesona,Terlebih dahulu kita bicarakan intonasi. Pembicaraan tentang intonasi perlu kita dahulukan karena berbagai cara membuka pidato itu hampir tidak ada manfaatnya kalau tidak disertai intonasi yang baik. Intonasi adalah..."(Wiyanto, 2004:24).

Kalimat utama

“Kalimat utama atau kalimat topik adalah kalimat yang mengandung pokok pikiran paragraf (Wiyanto, 2004: 25).

Pokok pikiran itu digunakan dalam satu kalimat di antara  kalimat-kalimat lain yang terdapat dalam sebuah paragraf. Kalimat yang mengandung pokok pikiran itu bervariasi, tetapi pokok pikirannya tetap sama. Misalnya, pokok pikiran itu disampaikan penulis adalah “tanaman itu bagus”. Jika pokok pikiran itu dituangkan dalam sebuah kalimat, maka kemungkinan akan muncul sebagai berikut. 
  • Banyak orang mengakui bahwa tanaman itu termasuk tanaman yang bagus.
  • Tanaman kecil di depan rumahnya amat bagus
  • Sejak dulu sampai sekarang tanaman itu tetap bagus
  • Bila dibandingkan dengan tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya, tanaman itu yang tetap bagus.
Pokok pikirannya sama, yaitu “tanaman yang bagus” Karena itu, semua variasi kalimat itu dapat dikatakan sebagai kalimat utama. Isi kalimat utama masih bersifat umum karena belum mengungkapkan pokok pikiran penulis secara rinci. Bagi pembaca, kalimat utama belum memberi informasi yang lengkap. Karena itu, dalam sebuah paragraf, selain terdapat kalimat utama, juga terdapat kalimat-kalimat penjelas.

Kalimat penjelas

Kalimat penjelas tidak dapat dipisahkan dengan kalimat utama. Dinamakan kalimat penjelas karena ada kalimat utama. Sebaliknya, dinamakan kalimat utama karena ada kalimat penjelas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kalimat penjelas adalah kalimat yang bertugas menjelaskan pokok pikiran yang terdapat dalam kalimat utama secara rinci.

Misalnya, gagasan utamanya berbunyi “makhluk hidup memerlukan air”. Gagasan utama itu dituangkan dalam sebuah kalimat utama, misalnya “Agaknya kita tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa setiap makhluk hidup memerlukan air”. Kemudian, agar lebih jelas bagi pembaca, kalimat utama itu ditambahi kalimat-kalimat penjelas.

Contoh kalimatnya:

“Agaknya kota tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa setiap makhluk hidup memerlukan air. Misalnya, tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah kita. Pada musim kemarau panjang tumbuh-tumbuhan, terutama yang kecil akan mati kekeringan. Tumbuh-tumbuhan besar pun akan mati kalau tidak mendapatkan air dalam waktu yang amat lama. Demikian pula binatang piaraan kita, selain memerlukan makanan juga memerlukan air minum. Kebutuhan air itu lebih banyak lagi bagi manusia. Selain membutuhkan air untuk mandi, mencuci pakaian, dan memasak makanan, kita membutuhkan air untuk minum. Kita akan merasa sangat haus bila sehari saja tidak minum. Yang pasti, kita tidak akan tahan bila berapa hari tidak minum." (Wiyanto, 2004: 27).

Kalimat penegas

“Kalimat penegas dalam suatu paragraf tidak mutlak. Artinya, boleh ada boleh tidak. Kalimat  penegas adalah kalimat yang digunakan untuk memperjelas informasi atau menyimpulkan kalimat-kalimat yang mendahuluinya," (Wiyanto, 2004: 28). 

Contoh kalimatnya:
“Gedung yang dibangun delapan belas tahun yang lalu itu kini keadaannya rusak berat. Tembok bagian depan mengelupas di beberapa tempat dan bagian belakang retak-retak. Gentingnya banyak yang pecah dan tentu saja bocor kalau hujan turun. Kayu penyangga genting banyak yang parah sehingga bangunan tampak bergelombang. Plafon sudah tidak utuh, lantai hancur dan beberapa jendela kaca pecah. Bahkan sejumlah pintunya keropos dimakan rayap. Gedung itu memang sudah  tidak layak dihuni." (Wiyanto, 2004: 28).

Contoh paragraf yang mengandung empat unsur

Lagi pula, di asrama ini kita harus menjaga kebersihan. Kamar mandi kita bersihkan sedikitnya dua hari sekali. Halaman kita sapu bergiliran setiap pagi dan sore. Saluran air pembuangan kita kontrol setiap Minggu. Demikian pula sampah harus kita perhatikan. Jangan sampai kita membuang sampah sembarangan. Semua sampah, baik sampah besar maupun kecil, kita buang di tempat sampah. Bila sudah terkumpul, kita bakar di tempat pembakaran sampah atau kita buang ke tempat pembuangan terakhir. Bila perilaku hidup bersih itu kita lakukan, hidup kita di asrama menjadi nyaman dan sehat. (Wiyanto, 2004: 28-29). 

Daftar Pustaka

Wiyanto, Asul. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grassindo.
Next Post Previous Post
2 Comments
  • Very Handika
    Very Handika 10 Desember 2021 03.42

    hallo, salam kenal..

    • Sendi Septian
      Sendi Septian 11 Desember 2021 01.20

      Salam kenal kak

Add Comment
comment url