Prosedur Manajemen Kelas: Prosedur Dimensi Pencegahan dan Dimensi Penyembuhan


Prosedur ialah cara untuk mengerjakan suatu pekerjaan menurut tingkat-tingkatnya. Prosedur merupakan suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya dan prosedur-prosedur yang berkaitan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi.(Majid, Abdul, 2006:110).

Prosedur manajemen kelas merupakan serangkaian langkah kegiatan manajemen kelas yang dilakukan agar tercipta kondisi kelas yang optimal supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Kegiatan-kegiatan manajemen kelas mengacu pada tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan penyembuhan (kuratif).

Prosedur Dimensi Pencegahan

Tindakan merupakan tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tindakan pencegahan merupakan terapi yang tepat sebelum munculnya tingkah laku yang dapat mengganggu kondisi belajar mengajar. Adapun prosedur manajemen kelas dimensi pencegahan sebagai berikut:

1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru

Peningkatan kesadaran diri sebagai guru merupakan hal yang paling strategis dan mendasar karena dengan adanya rasa kesadaran diri sebagai guru akan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang menjadi modal dasar dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini dapat menghilangkan sikap otoriter dan sikap permisif yang dipandang kurang manusiawi dan kurang realistik.

Implikasinya di kelas, akan tampak pada sikap guru yang demokratis, sikap yang stabil, kepribadian yang harmonis, berwibawa. Penampakkan sikap ini akan menumbuhkan respon positif bag siswa siswa.

2. Peningkatan kesadaran pada siswa

Kurangnya kesadaran pada siswa akan menumbuhkan sikap suka marah, mudah tersinggung, yang memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji yang dapat mengganggu kondisi optimal yang telah terbangun pada proses belajar mengajar.

Peningkatan kesadaran pada diri siswa dapat menanggulangi sikap kemalasan, sikap menyerahkan tanggung jawab, kurang puas, mudah kecewa, mudah tertekan oleh peraturan sekolah dan sebagainya. Untuk meningkatkan kesadaran pada diri siswa, seorang pengajar perlu memberitahukan hak dan kewajiban siswa, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan siswa, menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati dan rasa keterbukaan antara guru dan siswa.

3. Sikap polos dan tulus dari guru

Sikap polos, tulus hati, jujur dan terbuka adalah modal penting untuk menciptakan kondisi yang optimal untuk memberikan pembelajaran pada siswa. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura dalam bersikap dan harus bertindak apa adanya.

Guru dengan segala sikap dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon oleh para siswa.

4. Mengenal dan menemukan alternatif manajemen kelas

Seorang guru harus mampu mengidentifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang sifatnya individual maupun kelompok, termasuk penyimpangan yang disengaja maupun tidak disengaja. Guru juga harus mengenal berbagai pendekatan yang paling tepat.

Selain itu, sebagai guru juga perlu belajar dari pengalaman guruguru lainnya yang gagal atau berhasil, hal ini dimaksudkan agar guru dapat mencari alternatif yang bervariasi dan tepat dalam menangani berbagai masalah manajemen kelas.

5. Menciptakan kontrak sosial

Pada dasarnya kontrak sosial diciptakan sangat berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan seraya memberi gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan siswa.

Untuk mengelola kelas, norma berupa kontrak sosial atau daftar aturan, tata tertib dengan sanksinya yang mengatur kehidupan di dalam kelas, perumusannya harus dibicarakan atau disetujui bersama oleh guru dan siswa.

Prosedur Dimensi Penyembuhan

1. Mengidentifikasi masalah

Pada tahapan ini seorang guru harus melakukan kegiatan untuk mengenal dan mengetahui masalah-masalah manajemen kelas yang timbul dalam suatu kelas. Kemudian mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan, sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat siswa melakukan penyimpangan perilaku.

2. Menganalisis masalah

Seorang guru harus menganalisis penyimpangan pada siswa dan menyimpulkan latar belakang terjadinya penyimpangan tingkah laku dan sumber-sumber dari penyimpangan itu. Setelah ditemukan penyimpangan, guru menentukan alternatif-alternatif penanggulangan atau penyembuhan dari penyimpangan tersebut.

3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan

Pada tahapan ketiga ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan berdasarkan sejumlah alternatif yang telah tersusun. Sesudah terpilih alternatif pemecahan yang dianggap tepat, selanjutnya guru mengaplikasikan alternatif pemecahan itu. 

4. Mendapatkan balikan

Pada tahapan keempat ini guru melakukan kegiatan kilas balik. Tujuannya untuk menilai keampuhan pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan.

Kegiatan kilas balik dilakukan oleh guru dalam bentuk pertemuan dengan siswa, diusahakan dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan dan kepentingan siswa dan sekolah. Selain itu, perlu disikapi perilaku guru pada saat pertemuan tersebut.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url