Pendidikan dan Perubahan Sosial Budaya


Perubahan sosial budaya yaitu suatu fenomena berubahnya struktur sosial dan pola budaya pada lingkungan sekitar. Perubahan sosial budaya adalah fenomena umum yang terjadi dari lahir hingga tua di dalam masyarakat. 

Sedangkan pendidikan yaitu sebuah bentuk dari kata lain seni dan budaya manusia yang mengalami perubahan, berkembang dan pilihan paling ampuh dalam mengalami perubahan atau pengembangan. Perubahan sosial budaya terjadi karena dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri maupun dari lingkungan sekitar.

Pengaruh perubahan sosial budaya terhadap pendidikan yaitu terjadinya perubahan pemikiran dalam pendidikan sejalan pada perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar, pendidikan juga mengalami perubahan. Maksudnya pada saat perubahan sosial budaya membawa pada perbaikan ekonomi masyarakat dan menyuruh mereka dalam mencukupi kebutuhan hasil teknologi.

Fungsi Pendidikan dalam Struktur Sosial

Pendidikan dari bahasa adalah perbuatan mendidik (hal, cara dan sebagainya) dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik atau pemeliharaan (latihan-latihan dan sebagainya) badan, dan batin (Poerwadarminto, 1991:250). 

Pendidikan mempunyai peranan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berpikir secara kritis dan mandiri (independent critical thinking) sebagai modal dasar untuk pembangunan manusia seutuhnya yang mempunyai kualitas yang sangat prima.

Upaya pengembangan kemampuan berpikir kritis dan mandiri bagi peserta didik adalah dengan mengembangkan pendidikan partisipasif. Pendidik baik guru maupun dosen seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator, keaktifan dibebankan kepada peserta didik. Keterlibatan peserta didik dalam pendidikan tidak sebatas sebagai pendengar, pencatat dan penampung ide-ide pendidik, tetapi lebih dari itu ia terlibat aktif dalam mengembangkan dirinya sendiri (Sadiman, 2004:3).

Struktural Fungsional dinamakan juga sebagai fungsionalisme struktural. Fungsionalisme struktural memiliki domain di teori Konsensus. Masyarakat dalam perspektif teori ini dilihat sebagai jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi dan bekerja secara teratur, menurut norma dan teori yang berkembang (Purwanto, 2008:12.) Struktural Fungsional adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. 

Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituenya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi (Idi, 2013:24). Teori ini juga merupakan bangunan yang bertujuan mencapai keteraturan sosial. Pemikiran struktural Fungsional sangat terpengaruh dengan pemikiran biologis yaitu terdiri dari organorgan yang mempunyai saling ketergantungan yang merupakan konsekwensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup

Pendidikan digunakan sebagai media sosialisasi kepada generasi muda untuk mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku dan menguasai tata nilai-nilai yang dipergunakan sebagai anggota masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai suatu kesatuan, sebagai suatu kesatuan masyarakat itu dapat dibedakan dengan bagian-bagianya, tetapi   tidak dapat dipisah-pisahkan. 

Dengan adanya anggapan masyarakat sebagai suatu realitas sosial yang tidak dapat diragukan eksistensinya, maka Durkheim memberikan prioritas analisisnya pada masyarakat secara holistik, dimana bagian atau komponen-komponen dari suatu sistem itu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan utama dari sistem secara keseluruhan.

Kebutuhan suatu sistem sosial harus terpenuhi agar tidak terjadi keadaan yang abnormal. Turner dalam wirawan mengatakan bahwa sistem sosial dapat dibentuk untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan-tujuan tertentu sehingga mempunyai fungsi dalam membangun unsur-unsur kebudayaan masyarakat (Wirawan, 2006:48).

Dalam perspektif fungsional struktural,masyarakat sebagai suatu sistem dari bagianbagian yang mepunyai hubungan satu dengan yang lain. Hubungan dalam masyarakat bersifat timbal balik dan simbiotik mutualisme.

Secara dasar suatu sistem lebih cenderung kearah equilibrium dan bertsifat dinamis. Ketegangan /disfungsi sosial /penyimpangan sosial/penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui adaptasi dan proses institusionalisasi. Perubahan yang terdapat dalam sistem mempunyai sifat gradual dengan melalui penyesuaian dan bukan bersifat revolusioner. Konsensus merupakan faktor penting dalam integrasi.

Lembaga pendidikan didorong untuk melakukan manajemen transformatif, model dan gaya kepemimpinan yang diharapkan dan diperlukan di saat globlalisasi ini adalah dengan“gaya kepemimpinan transformatif”. Lembaga pendidikan seharusnya mempunyai indikator dalam mengimplementasikan manajemenya. 

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Muhyi Batu Bara bahwa Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah itu menjadi konsep dan juga merefleksikan dan peran serta tanggung jawab masing-masing pihak antara lain:

  1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib 
  2. Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai
  3. Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat
  4. Adanya harapan yang tinggi dari personil sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainya, termasuk siswa) 
  5. Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai dengan tuntutan IPTEK
  6. Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administrative, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan dan atau perbaikan mutu
  7. Adanya komunikasi dan dukungan insentif dan orang tua siswa dan masyarakat lainya.

Proses Interaksi dalam Dunia Pendidikan

1. Interaksi Edukatif dalam Komunikasi Pendidikan Islam

Interaksi edukatif terdiri dari dua kata yaitu interaksi dan edukatif. Kedua kata Tersebut memiliki arti masing-masing. Untuk Merumuskan pengertian interaksi edukatif, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari masing-masing kata tersebut, Kemudian baru menggabungkan dalam satu Kalimat yang terpadu dalam maknanya.

Interaksi merupakan hubungan antar Manusia yang sifat dari hubungan tersebut Adalah dinamis artinya hubungan itu tidak Statis, selalu mengalami dinamika. (M. Elly Setiadi, dan Kolip Usman 2011; 62). 

Hubungan antara manusia satu dan lainnya disebut interaksi. Dari interaksi akan Menghasilkan produk-produk interaksi, yaitutata pergaulan yang berupa nilai dan norma yang berupa kebaikan dan keburukan dalam Ukuran kelompok tersebut. Pandangan tentang Apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk tersebut mempengaruhi Perilaku sehari-hari. (M. Elly Setiadi, dan Kolip Usman 2011; 38).

Interaksi adalah proses di mana orang- orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita Ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan Sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu Dengan yang lain. (M. Elly Setiadi, 2007; 90- 91). Dengan demikian pada dasarnya, interaksi Ialah hubungan antar individu, kelompok, di Mana dengan adanya hubungan itu dapat Saling mempengaruhi, merubah baik dari yang Buruk menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Adapun pengertian edukatif secara Harfiah berarti pendidikan. (M. Sastra Pratja 1978; 127) Istilah pendidikan dalam Islam, Diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu Tarbiyah yang berbeda dengan kata ta’lim yang Berarti pengajaran atau teaching dalam bahasa Inggris. Kedua istilah (tarbiyah dan ta’lim) Berbeda pula dengan istilah ta’dzib yang Berarti pembentukan tindakan atau tatakrama Yang sasarannya manusia.

Walaupun belum Ada kesepakatan di antara para ahli, dalam Kajian ini yang dimaksud pendidikan Islam Adalah al-tarbiyah, istilah bahasa Arab yang Menurut penulis dapat meliputi kedua istilah di Atas. Hal yang sama dikemukakan oleh Azyumardi Azra bahwa pendidikan dengan Seluruh totalitasnya dalam konteks Islam Dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’lim dan Ta’dzib yang harus dipahami secara bersama- sama.

Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal Dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki Banyak arti akan tetapi pengertian dasarnya Menunjukkan makna tumbuh, berkembang, Memelihara, merawat, mengatur dan menjaga Kelestarian atau eksistensinya. (Rusli Karim, tt.; 120). Menurut Al-Atas, istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah al-ta’dib.

Al-ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan Berfungsi sebagai pembimbing ke arah Pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang Tepat dalam tatanan wujud dan Kepribadiannya.(Muhammad Nuquib al-Attas.

Haidar Bagir, 1994; 60. Istilah al-ta’lim Telah digunakan sejak periode awal Pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para Ahli, kata ini lebih universal dibanding dengan Al-tarbiyah maupun al-ta’dib, misalnya Mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi Berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu Tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.

Pendidikan adalah usaha sadar dan Terencana untuk mewujudkan suasana belajar Dan proses pembelajaran agar peserta didik Secara aktif mengembangkan potensi dirinya Untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, Pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, Akhlak mulia, serta keterampilan yang Diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

(Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat Pendidikan anak-anak adalah suatu Upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada Anak-anak yang dilakukan melalui pemberian Rangsangan pendidikan untuk membantu Pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan Rohani agar anak memiliki kesiapan dalam Memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dengan Demikian, dapat diketahui bahwa yang Dimaksudkan dengan edukasi adalah ajaran- ajaran mendidik yang dapat dijadikan materi Pelajaran oleh pendidik untuk disampaikan Kepada subjek didik agar dipraktikkan dalam Kehidupan keseharian mereka Interaksi edukatif adalah suatu proses Hubungan yang bersifat komunikatif antara Guru dengan siswa yang berlangsung dalam Ikatan tujuan pendidikan, dan bersifat edukatif, Dilakukan dengan sengaja, direncanakan serta Memiliki tujuan tertentu.

Sehubungan dengan Pengertian interaksi edukatif tersebut, dalam Hal ini diperjelas oleh beberapa tokoh Pendidikan. Interaksi edukatif dapat berlangsung di Lingkungan keluarga, sekolah maupun masya- Rakat. Interaksi edukatif harus menggambarkan Hubungan aktif dua arah dengan sejumlah Mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan Hubungan yang bermakna dan kreatif.

Semua Unsur interaksi edukatif harus berproses dalam Ikatan tujuan pendidikan. Interaksi yang bernilai edukatif yaitu Interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan Untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan Seseorang. Interaksi edukatif harus menggam- barkan hubungan aktif dua arah dengan Sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya Sehingga interaksi ini merupakan hubungan Yang bermakna dan kreatif.

Interaksi edukatif Adalah suatu gambaran hubungan aktif dua Arah antara guru dan anak didik yang Berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. Dalam pembelajaran terpadu interaksi edukatif Terjadi dalam rangka mencapai tujuan Pembelajaran yang telah ditetapkan.

2. Tujuan Interaksi Edukatif dan Tujuan Komunikasi

Tujuan dalam interaksi edukatif adalah Membantu anak didik dalam suatu Perkembangan tertentu, inilah yang dimaksud Interaksi edukatif sadar akan tujuan, dengan Menempatkan anak didik sebagai pusat Perhatian, sedangkan unsur lainnya sebagai Pengantar dan pendukung.

Tujuan interaksi belajar antara siswa Dengan guru merupakan titik temu dan bersifat Mengikat serta mengarahkan aktivitas dari Kedua belah pihak. Sehingga kriteria Keberhasilan keseluruhan proses interaksi Hendaknya dievaluasikan agar tercapai tujuan Pendidikan. Jadi interaksi di katakan sebagai Interaksi edukatif apabila secara sadar Mempunyai tujuan untuk mendidik, Mengantarkan anak didik ke arah Kedewasaanya. 

Interaksi antara guru dengan siswa Dalam proses pembelajaran di kelas Merupakan salah satu cara untuk menciptakan Suatu kondisi edukatif yang nyaman, aman dan Tenang menuju efisiensi, efektivitas dda Optimalisasi proses pembelajaran yang Diperlukan.

Bentuk interaksi yang diharapkan Adalah adanya suasana yang menyenangkan, Akrab, penuh pengertian dan mau memahami Sehingga siswa merasakan bahwa dirinya telah Di didik, dan tanggung jawab. Bentuk interaksi Sosial-edukatif yang akrab dan penuh Kekeluargaan antara guru dan siswa ini sangat Bermanfaat bagi siswa karena hal itu akan Menjadi pergaulan sehari-hari siswa dengan Teman-temannya dan lingkungannya.

Tujuan utama pendidikan dalam Islam Adalah untuk mencari keridhaan Allah Swt. Oleh sebab itu, dengan adanya pendidikan Diharapkan akan lahir individu-individu yang Baik, bermoral, berkualitas, sehingga berman- Faat kepada dirinya, keluarganya, masyarakat- nya, negaranya dan umat manusia secara Keseluruhan dalam aturan-aturan yang telah Ditetapkan oleh Islam.

Tujuan interaksi belajar antara siswa Dengan guru merupakan titik temu dan bersifat Mengikat serta mengarahkan aktivitas dari Kedua belah pihak. Sehingga cerita Keberhasilan keseluruhan proses interaksi Hendaknya ditimbang atau dievaluasikan agar Tercapai tujuan pendidikan. Jadi interaksi di Katakan sebagai interaksi edukatif, apabila Secara sadar mempunyai tujuan untuk Mendidik untuk mendidik, mengantarkan anak Didik ke arah kedewasaanya.

Interaksi yang bernilaDalam komunikasi terdapat berbagai Unsur, termasuk komunikasi dalam proses Pembelajaran, yaitu Adanya seorang Komunikator (pembawa pesan), Komunikan (penerima pesan), Ada tujuan yang hendak Dicapai, Adanya suatu pesan atau gagasan Yang hendak/perlu disampaikan. Tersedia Saluran yang dapat menghubungkan sumber Informasi dengan penerima informasi sehingga Terjadi hubungan timbal balik antara Komunikator dengan komunikan.

Adanya Umpan balik dari komunikan (respons). Adanya noise, gangguan yang tidak Direncanakan dalam proses komunikasi. Komunikasi Dan Proses Pembelajaran Komunikasi yang dimaksud penulis di Sini ialah hubungan atau interaksi antara guru Dengan siswa yang berlangsung pada saat Proses pembelajaran atau dengan istilah lain Yaitu hubungan antara guru dengan siswa Dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Ada Tiga pola komunikasi yang dapat digunakan Untuk mengembangkan interaksi dinamis Antara guru dengan siswa (Nana Sudjana, 1989).

Komunikasi sebagai aksi atau Komunikasi satu arah. Dalam komunikasi ini Guru berperan sebagai pemberi aksi dan siswa Sebagai penerima aksi. Guru aktif dan siswapasif.Komunikasi sebagai interaksi atau Komunikasi dua arah. Pada komunikasi ini Guru dan siswa memiliki peran yang sama Yaitu pemberi dan penerima aksi (informasi). Komunikasi ini lebih baik dari yang pertama, Sebab kegiatan guru kegiatan guru dan siswa Relatif sama.

Komunikasi banyak arah atau Komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi  Yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis Antara guru dengan siswa tetapi juga Melibatkan interaksi yang dinamis antara Siswa yang satu dengan siswa yang lain. Kegiatan semacam ini mengarah pada proses Pembelajaran yang mengarahkan pada pembe- Lajaran yang mengembangkan kegiatan siswa Yang optimal sehingga menumbuhkan siswa Belajar aktif. Diskusi simulasi merupakanStrategi yang dapat mengembangkan Komunikasi ini.

3. Prinsip-Prinsip Interaksi Edukatif dalam Pendidikan Islam

Dalam rangka menjangkau dan Memenuhi sebagian besar kebutuhan anak Didik, dikembangkan beberapa prinsip dalam Interaksi edukatif dengan harapan mampu Menjembatani dan memecahkan masalah yang Sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi Edukatif.

Prinsip tersebut harus dikuasai oleh Guru agar dapat tercapai tujuan pengajaran. Prinsip-prinsip ini diharapkan mampu Menjembatani dan memecahkan berbagai Masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan Interaksi edukatif. Prinsip-prinsip interaksi Edukatif sebagai berikut:

  • Prinsip Motivasi: Agar setiap anak dapat Memiliki motivasi dalam belajar. 
  • Prinsip Berangkat dari Persepsi yang Dimiliki.
  • Prinsip Mengarah kepada Titik Pusat Perhatian Tertentu atau Fokus Tertentu: Pelajaran yang direncanakan dalam suatu Pola tertentu akan mampu mengaitkan Bagian-bagian yang terpisah dalam suatu Pelajaran. 
  • Prinsip Keterpaduan: Keterpaduan dalam Pembahasan dan peninjauan akan membantu Anak didik dalam memadukan perolehan Belajar dalam kegiatan interaksi edukatif.
  • Prinsip Pemecahan Masalah yang Dihadapi: Salah satu indikator kepandaian anak didik Banyak ditemukan oleh kemampuan untukmemecahkan masalah yang dihadapinya.
  • Prinsip Mencari, Menemukan Dan Mengembangkan Sendiri: Guru yang Bijaksana akan membiarkan dan memberi Kesempatan kepada anak didik untuk Mencari dan menemukan sendiri informasi
  • Prinsip Belajar Sambil Bekerja: Artinya Belajar sambil melakukan aktivitas lebih Banyak mendatangkan hasil untuk anak Didik sebab kesan yang didapatkan anak Didik lebih tahan lama tersimpan di dalam Benak anak didik.
  • Prinsip Hubungan Sosial: Hal ini untuk Mendidik anak didik terbiasa bekerja sama Dalam kebaikan. 
  • Prinsip Perbedaan Individual: Sudut Pandang untuk melihat aspek perbedaan Anak didik adalah segi biologis, intelektual dan psikologis.

Hubungan Pendidikan dengan Pranata Sosial

1. Pendidikan

Pendidikan menurut Herman H. Horne, yaitu “ proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian lebih tinggi, bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestadi dalam alam sekitar intelektual, emosial dan kemanusiaan dari manusia”.

Definisi lain dari Drs. A. D Mirimba, yaitu “pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.

Untuk memahami makna dari pendidikan, maka kita  perlu mengetahui tentang hakikat dari pendidikan itu sendiri. Menurut Purwanto, terdapat dua istilah yang mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan,yaitu kata pedagogie dan pedagogiek. Pedagogie bermakna pendidikan, sedangkan pedagogiek berarti ilmu pendidikan. 

Menurut Muis Saad Imam, apa yang dipraktikan dalam pendidikan selama ini adalah konspe pedagogi, yang secara harfiah adalah seni mengajar atau seni mendidik anak-anak.

Pedagogik sebagai ilmu pendidikan baru berkembang di kontingen Eropa pada Abad 20,  sedangkan di Indonesia, baik praktis maupun teoritis dimulai pada era Ki Hajar Dewantara dan kawan-kawan pasca pembuangan ke Eropa (1913/1914) yang mengenalkanya dengan tokoh progresivisme pendidikan dan pengajaran, seperti Jan Lighart dan Maria Montessori.

Pada giliranya, rintisan taman Siswa (1922), gerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia serta perkembangan ilmu mendidik di Netherland membantu penyebaran ilmu pedagogik.

Pedagogi modern membagi fungsi pembelajaran menjadi tiga area, yakni apa yang dimaksud  dengan Taksonomi Bloom, dimana menurutnya, pengajaran terbagi atas:

Bidang kognitif (berkenaan dengan aktifitas mental, seperti ingatan, pemahaman, penerapan anlisis, evaluasi dan mencipta). Contohnya, yaitu dalam proses mengingat pelajaran dan menganalisis materi pelajaran.

Bidang afektif (berkenaan dengan sikap dan rahasia diri), contohnya, yaitu sikap yang tidak terlihat yang dimiliki oleh masing-masing orang.

Bidang psikomotori (berkenaan dengan aktivitas fisik seperti keterampilan hidup dan pertukangan). Contohnya yaitu kemampuan membuat alat (mesin) dan kreasi lainya.

Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan mustahil manusia dapat berkembang secara baik. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

Dalam pendidikan terdat kunci, yang menjadi cara dalam melaksanakan pendidikan, yaitu mendidik. Mendidik, menurut Langeveld adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam usahanya mencapai kedewasaan.

Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Bagian dari mendidik adalah mengajar, yang dimaknai sebagai menyajikan bahan ajar tertentu, berupa seperangkat pengetahuan, nilai atau deskripsi keterampilan kepada seseorang atau sekumpulan orang dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukanya sekarang atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya tumbuh, sehingga ia dapat mengembangkan atau meningkatkan intelegensinya secara intelektual.

Sebagai sebuah sistem, pendidikan tidak terlepas dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Menurut Zuhairini, komponen-komponen dalam pendidikan itu meliputi: tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat/media pendidikan dan lingkungan pendidikan.

2. Pranata Sosial

Pranata sosial berasal dari bahasa asing social institutions. Istilah tersebut dipakai oleh Soerjono Soekanto sebagai lembaga sosial yang menunjuk pada adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku warga masyarakat. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. 

Dijelaskan oleh Koentjoroningrat, bahwa berdasarkan fungsinya, setiap pranata ikut memberikan dampak dalam pembentukan kepribadian warganya. Kepribadian sebagai ciri watak yang diperlihatkanya secara lahir, konsisten, dan konsekuen sebagai individu yang memiliki identitas tertentu yang berbeda dari individu-individu lainya.

Oleh karena itu, agak sulit bagi setiap ilmuwan untuk melepaskan diri, atau sama sekali ke luar dari pengaruh norma-norma yang telah terbentuk oleh pranta-pranata di masyarakat.

Dalam bahasa sehari-hari istilah institution sering dikacaukan dengan istilah institute. Dalam bahasa Indonesia pertukaran arti itu juga terjadi. Istilah indonesia untuk institute adalah “lembaga”, maka sesuai dengan itu dalam bahasa surat kabar dan bahasa populer di Indonesia sering kita baca istilah “dilembagakan”. Padahal antara “pranata” dan “lembaga” harus diadakan pembedaan secara tajam.

Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau institut adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas itu.

3. Hubungan Pendidikan dan Pranata Sosial

Pendidikan dan pranata sosial adalah sesuatu yang bertalian satu sama lain. Beberapa kebutuhan manusia, seperti kebutuhan pendidikan, akan diperoleh lebih terstruktur dengan adanya lembaga sosial atau paranta sosial.

Pranata sosial akan ada jika ada kebutuhan individu yang digabungkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhanya. Pranata sosial melibatkan bukan saja pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi juga pola organisasi untuk melaksanakanya.

Pendidikan sebagai pranata sosial tidak terpisah dengan pranata sosial lainya, baik ekonomi, politik, budaya dan agama, maka tingkat efektivitas dan keakuratan suatu program penguatan pendidikan sebagai pranata sosial tersebut, sangat bergantung pada peran dan fungsi satu pranata dengan pranata lainya.

Pendidikan sebagai pranata sosial sesungguhnya sebagai salah satu upaya dan strategi dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional yang mengaharapkan terciptanya generasi masa depan yang berilmu pengetahuan-berteknologi dan beriman-bertakwa dapat terwujud dengan efektif.

Tujuan pembangunan nasional tersebut akan terwujud apabila pendidikan sebagai pranata sosial dapat berfungsi normal dan efektif dalam menciptakan SDM yang berkualitas, ilmu pengetahuan yang relevan dengan zamanya dan mampu hidup pada era globaliasasi dengan menjaga identitas tertentu yang melakat pada diri sebagai pribadi, agama dan bangsa seperti yang diharpkan oleh tujuan pembangunan pendidikan nasional.

Dari pembahasan diatas dapat diketahui bahwa pendidikan dan pranta sosial memiliki ketrkaitan yang erat, dimana pendidikan membutuhkan suatu pranata sosial dalam menjalankan aktivitasnya. Dimana, dengan adanya pranata sosial, maka proses pendidikan akan lebih terstruktur dan sistematis, sehingga dapat berajalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Dan kualitas dari pelaksanaan pendidikan tersebutpun akan dapat tercapai secara maksimal apabila didukung oleh pranata sosial yang memilki komptensi serta memilki hubungan yang baik dengan pranata sosial lainya, sehingga semua aktivitas pendidikan dapat berjalan secara terstruktur dan sistematis.

Hubungan Pendidikan dan IPTEK

1. Pengertian Pendidikan dan IPTEK

Pendidikan merupakan suatu proses menuju kedewasaan melalui pembelajaran dan bimbingan untuk mengembangkan potensi, ilmu pengetahuan, perkembangan yang lebih baik, meningkatkan taraf hidup yang baik dan dilakukan dengan keadaan sadar untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan terdapat ilmu pengetahuan.

Pengetahuan sendiri merupakan hasil dari aktivitas mengetahui yang terjadi dari kenyataan dan tidak ada keraguan didalamnya. Ilmu adalah yang membahas lebih lanjut dari sekedar apa yang di dapat dari pengetahuan.

Teknologi merupakan alat dan pengetahuan supaya lebih maju dan terarah. Jadi, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diartikan sebagai produk,bukan hanya sebagai proses atau kegiatan. sebagai produk, tentu saja pemakaianya tergantung pada pemakai, semakin maju peradaban, makin besar peranan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dalam banyak hal ia menggeser peranan takhayul, kekuatan supernatural dan pengetahuan tradisional suatu masyarakat.

2. Dampak IPTEK terhadap Pendidikan

Dengan perkembangan zaman tentu dalam pendidikan dituntut untuk selalu mengerti perkembangan terkini mengenai pendidikan. Jika kita menggunakan IPTEK tentu mempunyai dampak negatif yang terjadi berikut beberapa dampak negatif:

  • Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.
  • Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi- tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.
  • Pola interaksi antar manusia yang berubah. Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program Internet Relay Chatting anak-anak bisa mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.
  • Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak pidana. Kita tahu bahwa kemajuan di bidang pendidikan juga mencetak generasi e-book tinggi berpengetahuan tetapi moral yang rendah. Misalnya, dengan ilmu komputer yang tinggi maka orang akan mencoba untuk menerobos sistem perbankan dan lain-lain.
  • Perlu untuk tujuan yang jelas. IPTEK dipandang kurang efektif (atau tidak efektif) saat tujuan penggunaannya tidak jelas. Seperti untuk menggunakan internet untuk mencari video porno saat menggunakan komputer di sekolah.
  • Menjadi ketergantungan dan dapat membuat malas belajar.

Selain, mempunyai dampak negatif. IPTEK juga memberikan dampak positif yaitu:

  • Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan sehingga guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
  • Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat konkret.
  • Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka. Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain. Hal ini berkaitan dengan efisiensi waktu pembelajaran.
  • Memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran tidak harus lagi membuat bahan ajar dengan cara yang lama namun dengan IPTEK kita dapat membuat lebih menarik dan cepat dengan memanfaatkan internet.
  • Adanya sistem pengolahan data hasil penilaian yang menggunakan pemamfaatan Teknologi. Dulu, ketika orang melakukan sebuah penelitian, maka untuk melakukan analisis terhadap data yang sudah diperoleh harus dianalisis dan dihitung secara manual. Namun setelah adanya perkembangan IPTEK, semua tugasnya yang dulunya dikerjakan dengan manual dan membutuhkan waktu yang cukup lama, menjadi sesuatu yang mudah untuk dikerjakan, yaitu dengan menggunakan media teknologi, seperti Komputer, yang dapat mengolah data dengan memamfaatkan berbagai program yang telah di installkan.
  • Pembelajaran menjadi lebih efektif, simulatif dan menarik
  • Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / Kompleks
  • Mempercepat proses yang lama
  • Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi
  • Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau diluar jangkauan

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url