Manajemen Konflik: Pengertian, Tujuan, Pendekatan, dan Prosesnya


Manajemen konflik merupakan suatu keahlian dalam mengelola permasalahan pertentangan beberapa orang dalam suatu organisasi.

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi. Konflik merujuk pada suatu kondisi dimana dua kelompok atau dua pihak terjadi pertentangan sehingga tidak dapat mencapai tujuan-tujuan mereka secara simultan.

Manajemen konflik diperlukan dalam sebuah organisasi agar organisasi tersebut dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Artikel ini akan membahas terkait dengan konsep dasar manajemen konflik, mulai dari pengertian, tujuan, pendekatan, hingga proses dalam manajemen konflik.

Pengertian Manajemen Konflik

Manajemen konflik merupakan suatu keahlian dalam mengelola permasalahan pertentangan beberapa orang dalam suatu organisasi.

Selain itu, manajemen konflik juga bisa dikatakan sebagai strategi untuk mengatasi konflik yang terjadi agar tidak berkepanjangan.

Pengertian lain juga mengatakan bahwa manajemen konflik ialah langkah-langkah yang dilakukan oleh orang yang terlibat konflik atau orang lain yang menengahi untuk mengarahkan konflik tersebut ke arah yang menguntungkan organisasi.

Dalam institusi pendidikan, yang memegang peranan dalam pelaksanaan manajemen konflik adalah kepala sekolah. Kepala sekolah harus memiliki kemampuan manajemen yang baik agar organisasi yang dipimpin mampu untuk bersaing (terkait mutu) dengan organisasi lainnya.

Tujuan Manajemen Konflik

Manajemen konflik harus dilakukan agar organisasi yang dipimpin dapat mencapai tujuan secara efektif. Beberapa tujuan manajeme konflik, diantaranya sebagai berikut:

1. Meminimalisir atau bahkan mencegah terjadinya gangguan

Visi, misi, dan tujuan yang strategis merupakan ciri dari organisasi yang baik. Ketiganya harus dapat direalisasikan dengan waktu yang telah direncanakan.

Apabila manajemen konflik buruk, maka akan berkembang menjadi suatu konflik yang bersifat menghancurkan bagi pihak yang terlibat atau bahkan bagi organisasi.

Sehingga, mereka akan lebih fokus terhadap konflik yang terjadi, bukan pada pencapaian tujuan organisasi. Artinya, konflik dapat mengganggu perhatian anggota terhadap pencaiapan tujuan.

2. Membangun rasa saling menghormati dan menghargai

Dalam sebuah interaksi (terutama dalam organisasi), penting sekali memiliki rasa saling menghormati dan menghargai antar individu.

Hal ini dikarenakan setiap individu yang bekerja pasti membutuhka rekan kerja yang lainnya.

Oleh karena itu, manajemen konflik diarahkan agar antar anggota dapat memahami keragaman karakteristik sehingga pemimpin dapat mengelola konflik dengan baik.

3. Meningkatkan kreativitas anggota dengan mamanfaatkan konflik

Terjadinya perbedaan pendapat tidak hanya mengarah pada hal yang negatif, melainkan dapat membangun kreativitas dan inovasi antar individu.

Hal ini dikarenakan muculnya gagasan-gagasan baru yang dikemukakan oleh masing-masing anggota. Apabila konflik dapat dikelola dengan baik, maka akan mengembangkan produktivitas organisasi.

4. Meningkatkan kualitas keputusan

Konflik yang sering terjadi dalam organisasi biasanya berkaitan dengan pengambilan keputusan pemimpin. Suatu keputusan dapat dikatakan baik apabila didasarkan pada berbagai pertimbangan dan sumber informasi yang akurat.

Dalam hal ini, konflik menjadi suatu fasilitas untuk memilih keputusan yang diambil dan menjadi alternatif untuk keputusan lainnya.

5. Memfasilitasi kegiatan bersama

Organisasi merupakan sistem sosial yang terdiri dari strukturisasi yang berisi sumber daya manusia. Semua individu dalam organisasi harus saling bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi.

Konflik yang ada harus mengikutsertakan semua anggota organisasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi aktivitas organisasi.

6. Membuat prosedur dan penyelesaian konflik

Suatu organisasi dikatakan berhasil apabila organisasi tersebut belajar dari situasi konflik yang dihadapi.

Hal ini dapat mengembangkan prosedur penyelesaian konflik, yang nantinya akan terus berkembang dalam organisasi tersebut.

7. Menghindari iklim kerja yang tidak menyenangkan

Dalam setiap pekerjaan tentunya ingin memiliki iklim yang menyenangkan. Sebuah konflik destruktif dapat menyebabkan iklim kerja yang tidak menyenangkan.

Oleh karena itu, diperlukan manajemen konflik yang baik agar dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir iklim kerja yang tidak menyenangkan.

8. Mencegah terjadinya pemogokan kerja

Konflik yang muncul dapat menciptakan harmonisasi yang buruk antar anggota organisasi. Jika dibiarkan, hal ini akan menyebabkan terjadinya pemogokan kerja oleh setiap anggota.

9. Menghindari terganggunya proses produksi dan operasi

Konflik yang berkepanjangan dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan pengalihan perhatian, sehingga proses produksi dan operasi organisasi tidak berjalan. Hal ini dapat menyebabkan produktivitas organisasi menurun.

Pendekatan Manajemen Konflik

Menurut Bashori (2018:24-25) terdapat tujuh pendekatan manajemen konflik jika dilihat berdasarkan konflik yang ada, diantaranya: 

1. Integrating

Pendekatan melalui tukar menukar informasi dan ada keinginan untuk mengamati perbedaan serta mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak atau menyatukan.

Penyelesaian dengan pendekatan ini mendorong tumbuhnya sifat kreatif yang menekankan dari perspektif yang berbeda. Pendekatan dengan cara ini membutuhkan waktu yang cukup panjang.

2.Obliging

Pendekatan ini membutuhkan perhatian yang tinggi dengan cara membantu, ikut bekerja sama dalam menyelesaikan konflik.

Pendekatan ini akan berperan menyempitkan perbedaan antar kelompok atau kesenjangan komunikasi karena suatu jabatan atau status.

3. Dominating

Pendekatan ini mementingkan otoritas diri. Pendekatan ini diperlukan untuk menekankan kejelasan dari sebuah keputusan.

Pendekatan ini tidak membutuhkan negosiasi, karena dimungkinkan keputusan terjadi karena hal-hal yang mendesak dan harus segera ditangani.

4. Avoiding

Pendekatan penyelesaian dengan cara menghindar, pendekatan ini harus dilakukan apabila memenuhi konflik-konflik yang sepele dan sebetulnya apabila ditangani malah membuat konflik semakin membesar.

Dengan menghindar memang tidak akan menyelesaikan permasalahan, tetapi adakalanya permasalahan yang dihindari akan usang dan tidak membutuhkan perhatian lagi karena sudah tidak berarti.

5. Comproming

Pendekatan ini digunakan karena masing-masing konflik perlu perhatian yang cukup. Keduanya tidak bisa ditinggal atau dihindari.

Oleh karena itu, kompromi atau negosiasi diperlukan sehingga semuanya akan mendapat solusi yang adil.

6. Collaborating

Cara manajemen kolaborasi merupakan gaya bernegosiasi untuk solusi yang sepenuhnya memuaskan pihak-pihak yang terlibat konflik.

Upaya tersebut meliputi saling memahami permasalahan konflik atau saling mempelajari ketidaksepakatan.

7. Accomodating

Dalam gaya manajemen konflik dengan tingkat keaktifan rendah dan tingkat kerjasama yang tinggi. Seseorang mengabaikan kepentingan dirinya sendiri dan berupaya untuk memuaskan kepentingan lawan konfliknya.

Dengan kata lain, pendekatan ini akan membuat satu pihak yang terlibat konflik untuk melakukan pengorbanan terhadap pihak lainnya.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Hasanah (2020: 5-9) bahwa terdapat beberapa strategi dalam manajemen konflik pada lembaga pendidikan Islam, dintaranya: (1) Negosiasi atau perundingan, (2) tabayyun, (3) musyawarah, (4) takhim, dan (5) islah.

Berdasarkan beberapa pendekatan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sesuai dengan konteks dan rumitnya konflik.

Proses Manajemen Konflik

Dalam proses manajemen konflik, terdapat tiga tahapan yang perlu diketahui. Tiga tahapan tersebut adalah:

1. Perencanaan

a. Identifikasi masalah

Tahap awal dalam proses manajemen konflik adalah mengidentifikasi masalah yang terjadi. Seorang pemimpin harus bisa menyaring antara gejala konflik dan penyebab konflik. Contoh gejala konflik adalah motivasi kerja rendah dan suasana kerja atau organisasi menjadi tegang. 

b. Klasifikasi masalah

Setelah mengidentifikasi masalah yang ada, seorang pemimpin harus mengklasifikasikan atau mengelompokkan permasalahan yang ada.

c. Analisis masalah

Hal ini dilakukan untuk mengetahui skala prioritas kepentingan dari suatu masalah yang ada.

2. Pelaksanaan

a. Penentuan pendekatan

Penentuan pendekatan sangat bergantung terhadap konflik yang terjadi. Oleh karena itu, pemimpin harus jeli dalam menganalisis masalah dan melakukan tindakan yang sesuai melalui pendekatan manajemen konflik yang ada.

b. Penyelesaian masalah melalui manajemen konflik

Penyelesaian konflik melalui pendekatan yang sesuai akan berpengaruh terhadap keuntungan ataupun kerugian dari organisasi yang dipimpin.

3. Evaluasi

Tanpa adanya evaluasi, maka organisasi yang dimpimpin akan stuck atau berdiam di tempat tanpa ada kemajuan. Evaluasi berguna untuk menjadikan organiasi menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sumber

  • Bashori. (2018). Manajemen Konflik di Lembaga Pendidikan. IDARAH: Jurnal Pendidikan dan Kependidikan, 2(1), 18-32.
  • Hasanah, U. (2020). Manajemen Konflik dalam Meningkatkan Kualitas Kerja Pada Lembaga Pendidikan Islam. AL-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 10(1), 1-12. Doi: https://doi.org/10.24042/alidarah.v10/1.6448. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url